
Oleh: Elisabeth Karma, Ketua Kelompok Fyarkin, Pulau Numfor, 15 Februari 2025
Cerita ini berawal dari komunitas Kampung Saribi dan Submander, Distrik Orkeri, Kabupaten Biak-Numfor. Dimana pada masa lampau komunitas kampung ini mempunyai cara hidup yang berbeda dengan cara hidup sekarang. Seorang tetua kampung, Bapa Bertus Rumbrawer mengatakan,
“Sinan epon siwara siswar yaye si imbape babo ine oroba. Rupara farfur yafe randak iwar ido sifararur kayam e babo ine ido, sufur yaf ido sifararur wesisye, ramnai sranda sraswan sun in ma smun randip (ben sup) ido kan kayam eee”
“Orang tua dulu hidup baku sayang tetapi sekarang tidak. Dulu jika mau berkebun, pembukaan lahan dilakukan bersama-sama. Sekarang aktivitas ini dilakukan sendiri-sendiri. Jika dulu ada yang mendapat hasil tangkapan seperti ikan babi, akan dinikmati bersama. Hal yang tidak lagi bisa dirasakan.”
Hilangnya kebersamaan turut mempengaruhi kemampuan akan pemenuhan kebutuhan dasar. Makan tidak terpenuhi dengan baik dan meningkatkan ketergantungan pada bantuan seperti Bansos, BLT, Raskin dan Dana Desa. Pada saat itulah YP3SP datang melakukan lokakarya di kampung kami dalam sebuah proses yang disebut belajar bersama. Proses belajar bersama inilah yang kemudian memunculkan pemikiran pada beberapa orang bahwa, “Ada yang tidak benar dengan cara hidup yang kami lakukan sekarang, seperti berhutang untuk makan karena tidak berkebun.”
Oleh karenanya kami kemudian memutuskan untuk membuat kelompok bernama Fyarkin. Fyarkin dalam bahasa Biak farkin, yang bermakna ‘dibina atau dipimpin ke arah yang lebih baik’.
Pembentukan Kelompok Fyarkin
Pada awal pembentukan kelompok, ada 40 orang yang bergabung menjadi anggota. Namun jumlahnya berkurang seiring waktu berjalan. Alasan mereka mengundurkan diri disebabkan adanya perbedaan antara harapan mereka dengan kenyataan yang ada. Mereka berharap pembentukan kelompok seperti pada umumnya adalah sebagai syarat untuk menerima bantuan pemerintah. Pada kenyataannya Fyakin tidak menerima bantuan berupa uang atau aset apa pun dari YP3SP.
Saat ini anggota kelompok Fyarkin hanya tersisa sembilan orang, termasuk tiga pengurus yang baru diangkat setelah hampir dua tahun kelompok terbentuk. Keputusan untuk meniadakan kepengurusan memang sudah merupakan kesepakatan anggota dari awal. Dengan alasan semua orang bertanggung jawab pada diri sendiri dan kelompok. Itu juga cara kami untuk menghindari keadaan dimana satu orang akan merasa menjadi bos bagi yang lain.
Hingga tiba saat dimana Fyarkin menghadapi persoalan di dalam kelompok yang menyebabkan berhentinya proses produksi selama hampir tiga bulan. Saat itulah kami menyadari bahwa kami tetap membutuhkan orang-orang yang kami angkat dan diberi tanggung jawab. Tanggal 17 Agustus 2022 merupakan hari dimana kami melakukan pemilihan dan mengangkat pengurus pertama kelompok Fyarkin, yang terdiri dari Ketua, Sekretaris, dan Bendahara.
Mengembalikan Kebersamaan dan Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Untuk mengembalikan kebersamaan, kelompok Fyarkin mulai dengan kembali mempraktikkan secara rutin tradisi adat, seperti kakes, mansorandak, dan sasi. Kakes adalah pemberian pinang, sirih, kapur untuk menyambut tamu yang datang ke rumah. Ini menandakan ikatan kasih sayang. Praktik-praktik ini kami lakukan kepada setiap orang tanpa memandang status.
Mansorandak adalah kebiasaan menyambut orang baru yang pertama kali datang ke kampung maupun ke rumah. Ini adalah bentuk penerimaan terhadap orang tersebut menjadi bagian dari kampung dan rumah kami (injak dan pemberian piring). Dulu, prosesi ini biasa dilakukan, yang kemudian mulai berkurang dan hanya dilakukan secara simbolik ketika menyambut tamu amber dan petinggi-petinggi pemerintah. Kami di Fyarkin berusaha mengembalikan makna sejati mansorandak. Sejauh ini kami sudah melakukan prosesi mansorandak dengan mengeluarkan sekitar 38 piring untuk menyambut teman-teman dari komunitas lain seperti kelompok Paia dari Merauke, Sinara dari Kaimana, Bapa Dimara dari DPMK Kabupaten Biak-Numfor, Asosiasi Homestay dari Raja Ampat, dan anggota Fyarkin sendiri saat mereka pulang dari tempat yang baru mereka kunjungi.
Sasi adalah bentuk penghargaan kepada laut dan hutan, berbentuk doa larangan pengambilan ikan dan tanaman yang sudah ditandai dengan batas waktu tertentu. Untuk mendapatkan ikan yang lebih banyak dan besar diperlukan sasi laut, begitu juga dengan tanaman.
Sasi laut yang terakhir kami lakukan di rentang awal Februari hingga 10 Juli 2023. Hasil pembukaan sasi untuk dimakan bersama-sama pada acara peresmian gedung gereja. Fyarkin terlibat langsung dalam mengambil keputusan atas kegiatan sasi laut tersebut. Anggota Fyarkin juga mengambil inisiatif sendiri untuk melakukan sasi pinang dan sirih yang ditanam di pekarangan rumah masing-masing. Dengan melakukan hal-hal ini kami mulai menjalin kembali kebersamaan yang telah hilang di antara kami.
Untuk pemenuhan kebutuhan dasar, kami mulai membuka kebun pribadi maupun kelompok, memproduksi minyak kelapa, VCO, sagu-kasbi, dan ikan asin. Oleh karena jumlah produksi kami masih sedikit, hasilnya sebatas untuk dikonsumsi sendiri. Baru jika berlebih kami menjualnya. Keputusan ini membawa kami secara bertahap berhenti menggantungkan kebutuhan makan kami kepada bantuan dan utang.
Kegiatan lainnya dari kelompok kami adalah melakukan penanaman mangrove seluas 50x20 meter secara swadaya, dipimpin langsung oleh Bapa Bertus Rumbrawer. Kegiatan ini bertujuan melindungi tempat tinggal kami di pesisir, juga menyediakan tempat bertelur bagi ikan yang merupakan salah satu hasil terbesar kampung kami.
Kami juga menanam kembali sekitar 60 kelapa di lahan masing-masing anggota untuk menjamin keberlanjutan produksi VCO dan minyak kelapa. Saat ini banyak pohon kelapa yang sudah terlalu tua dan tidak memberikan hasil maksimal. Dari produksi kami sejauh ini, kami sudah mampu membeli satu unit mesin parut kecil sebagai alat produksi, sehingga tidak perlu lagi menyewa. Bagi kami hal ini merupakan suatu keberhasilan yang membanggakan.
Kesadaran yang Dibangun Kelompok Fyarkin
Dengan segala aktivitas kami, komunitas kampung di sekitar kami mulai sadar bahwa tindakan dan pola pikir sangat berpengaruh pada kehidupan yang dijalani. Keberlangsungan hidup—khususnya soal makan—bukan tanggung jawab orang lain maupun pemerintah, melainkan tanggung jawab masing-masing orang.
Capaian lain yang kami rasakan sebagai anggota kelompok adalah upaya kami dalam memengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah dengan terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan. Upaya-upaya yang tidak mudah dan banyak menguras tenaga serta air mata.
Salah satu contoh adalah pada musyawarah kampung (muskamsos) untuk program Dana Desa yang berlangsung pada awal 2022. Dalam musyawarah tersebut dialokasikan bantuan bagi kelompok kami senilai Rp11.250.000 berupa 15 unit mesin parut dengan harga per unit Rp750.000. Tetapi pada saat realisasi, kami hanya menerima 10 unit mesin dengan harga per unit Rp350.000. Saat itu kami betul-betul kecewa dan merasa tertipu. Hal ini kemudian berakhir dengan kesepakatan bersama di dalam kelompok untuk tidak menerima dan menolak bantuan tersebut.
Tanpa kami sadari, keputusan kami itu memberi inspirasi bukan saja bagi anggota masyarakat lain, tetapi juga bagi aparat kampung. Mereka menyampaikan permohonan maaf, menjadikannya pembelajaran penting, khususnya bagi kepala kampung saat itu, agar tidak seenaknya mengubah hal yang diusulkan dan telah disepakati di dalam musyawarah kampung.
Peristiwa itu pula lah yang membuat pelaksana kepala kampung saat ini—bapa Otniel Rumaseb —memberikan dukungan dan apresiasi terhadap Fyarkin sebagai ‘kelompok masyarakat yang dibentuk oleh masyarakat sendiri’.
Motivasi untuk Terus Bertahan sebagai Kelompok
Kesulitan-kesulitan yang kami hadapi di dalam perjalanan sebagai kelompok adalah perjalanan panjang dan melelahkan. Ada saat dimana kami ingin menyerah dan berhenti. Tetapi di sisi lain, dukungan, dorongan, dan motivasi terus kami terima, bukan saja dari keluarga dan teman-teman YP3SP, tetapi juga dari pemerintah kampung.
Salah satu bentuk dukungan dan apresiasi dari pemerintah kampung adalah selama dua tahun berturut-turut Kepala Distrik Orkeri—bapa Tommy Sroyer—meminta kelompok kami untuk mewakili Distrik Orkeri dalam pelatihan minyak VCO yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Biak-Numfor.
Dari kegiatan tersebut kami mendapat bantuan berupa mesin parut, mesin peras, kompor, kuali dan alat-alat produksi minyak lainnya. Aset inilah yang kami gunakan untuk berproduksi dan perlahan-lahan mulai membangun rumah produksi. Kami membangun rumah produksi ini secara swadaya. Kami mengerjakan sendiri dengan melibatkan anggota kelompok dan tenaga bantuan dari keluarga masing-masing
Sesuai dengan mimpi Fyarkin, saya perlahan-lahan mulai melihat perubahan, baik secara individu maupun sebagai kelompok. Selain mencoba mengurus diri kami, kami juga terus terlibat dan berjuang di dalam memfasilitasi perubahan serupa, bersama masyarakat kampung kami sendiri dan bersama masyarakat kampung-kampung di sekitar kami. Untuk menyebut beberapa: Kampung Wansra, Kampung Yenbepon, Kampung Yenmanu, dan Kampung Sauribru, yang terinspirasi setelah melihat proses perubahan yang anggota Fyarkin alami.
