
Oleh: Adolf Marlon Tohatta, Fasilitator Komunitas YP3SP, Distrik Okaba, 17 Februari 2025
Ketergantungan pada utang demi memenuhi kebutuhan makan
Cerita saya berawal dari komunitas di Kampung Alatep, Distrik Okaba, Kabupaten Merauke. Saya anak yang terlahir dari rahim seorang perempuan asli suku Malind dari Kampung Alatep. Saya bekerja sebagai fasilitator komunitas YP3SP.
Jarak Distrik Okaba dari Kota Merauke sangat jauh dengan transportasi yang sangat sulit. Untuk mencapai Okaba tersedia alat transportasi udara, namun dengan jadwal yang tidak pasti. Jika ingin menggunakan kendaraan—biasa disebut jalan darat—kami harus menempuh kurang lebih empat jam perjalanan menggunakan kendaraan roda empat. Itu pun masih dilanjut dengan satu jam perjalanan menggunakan perahu bermotor yang biasa disebut belang. Ia adalah sejenis alat transportasi laut yang sangat mahal dan jika lewat darat harus menyeberangi dua sungai dan lautan bilamana cuacanya baik.
Selama melakukan listening survey, saya mengamati bahwa Kampung Alatep merupakan kampung yang terdiri dari bangunan-bangunan rumah dengan pekarangan yang hanya ditumbuhi rumput liar dan beberapa pohon kelapa. Kampung ini memiliki ketergantungan tinggi pada utang untuk memenuhi kebutuhan makan, terkhusus beras.
Keputusan membangun kelompok kebun bersama – Kelompok Berkebun
Lokakarya pertama dihadiri 45 orang, terdiri dari bapa-bapa, mama-mama, dan beberapa anak muda. Sejak itu 10 orang di antaranya memutuskan untuk membuka kebun secara berkelompok. Mereka menamakan kelompok ini Paia, berasal dari bahasa Malind, sebuah kalimat motivasi yang bermakna “mari bekerja mari berkarya, mari berkebun”.
Kebun Paia berukuran 100x100 meter. Kelompok ini menanam sayur-sayuran serta berbagai macam tanaman lokal. Untuk menyebut beberapa: keladi, pisang, pisang mbuti (pisang adat), serta ubi jalar, yang merupakan makanan pokok orang Papua suku Malind. Ikhtiar ini mereka lakukan terutama untuk memenuhi kebutuhan makan mereka sendiri.
Perjalanan Kelompok Paia
Dari hasil berkebun, Kelompok Paia mengonsumsinya sendiri. Sebagian lainnya mereka jual atau bagikan ke keluarga mereka di kampung. Pada perkembangannya, hal ini berhasil memengaruhi dan memotivasi warga lain untuk mulai ikut berkebun di halaman rumah masing-masing. Lewat berkebun bersama, Kelompok Paia menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan yang dibekali oleh orang tua mereka dahulu. Hidup dan bekerja sama demi mengembalikan kedaulatan pangan, serta bertahap mengurangi ketergantungan pada utang dan bantuan.
Tentu kisahnya tidak manis melulu. Dalam perjalanannya, kelompok ini pernah juga mengalami kesalahpahaman akibat kurangnya komunikasi dan dialog di antara sesama anggota kelompok. Keluar-masuk anggota lazim terjadi. Namun Kelompok Paia tidak pernah benar-benar bubar. Selain kebun bersama, tiap-tiap anggotanya tetap membuka kebun di pekarangan rumah untuk memenuhi kebutuhan makan harian.
Daniel Kinamde dan Charles Yolmen adalah dua anggota Kelompok Paia yang terus bertahan dan yang betul-betul mengerti tentang proses kelompok ini berdinamika. Daniel Kinamde pernah menyatakan, “Saya tidak bisa bekerja sendiri untuk membuka lahan kebun sebesar ini. Apa yang diturunkan oleh orang tua-tua kami sebagai suku Malind adalah hidup bekerja sama atau hidup berkelompok. Saya juga ingin melihat perubahan di keluarga saya dan juga perubahan di dalam kampung saya.” Lain halnya Charles Yolmen yang mengatakan, “Perubahan dimulai dari saya sendiri.”
Perjuangan kelompok ini bisa dilihat nyata. Jika sebelumnya di halaman rumah warga sama sekali tidak terlihat ada kebun, saat ini hampir seluruh rumah memiliki kebun.
Pengalaman sebagai fasilitator komunitas YP3SP di Distrik Okaba.
Hidup di tengah-tengah masyarakat kampung berlatar belakang pendidikan dan pemikiran berbeda-beda bukan lah hal yang mudah. Terkadang saya dicaci, difitnah, dan dihujat dengan mengatakan bahwa saya datang untuk menipu mereka, atau datang untuk mengambil keuntungan pribadi dari mereka. Anggota Kelompok Paia pun mengalami hal sama.
Terkadang saya harus menelan pahit kenyataan itu. Akan tetapi semuanya saya jalani dengan sabar dan tabah. Ini demi melihat perubahan di kehidupan masyarakat Okaba, khususnya kampung Alatep, tempat saya berasal. Saya yakin dan percaya bahwa keberhasilan tidak datang secepat kilat. Ia memerlukan waktu yang cukup panjang.
Jika merenungkan proses saya bekerja bersama masyarakat kampung, saya menyadari bahwa walaupun merupakan bagian dari mereka, sesungguhnya peran saya hanyalah untuk memfasilitasi perubahan berproses. Perihal kapan perubahan itu akan terjadi, saya akan membiarkan masyarakat kampung menentukannya sendiri.
