Scoping Wilayah Jayapura

Oleh Hosea Mirino

Ini kisah tentang pengalaman saya bekerja sebagai fasilitator, datang dan tinggal di Kampung Unurum, Distrik Unurumguay, Kabupaten Jayapura. Tinggal di sana selama enam hari, saya diperlakukan seperti anak sendiri oleh Bapak David Goakan. Ia kepala keluarga di rumah yang saya tumpangi.

Bapak David adalah sosok pekerja keras, berperan penting di dalam keluarga dan di kampung. Selama tinggal di sana, saya dilibatkan dalam berbagai aktivitas. Mulai dari berkebun, mencari hasil bumi di hutan, mengikuti acara adat, dan kegiatan di gereja. Di rumah, saya juga membantu mama memasak hasil panen.

Bapak David mengajak saya berburu. Saya ikut memasang jerat dan memeriksa hasil jerat yang sudah dipasang beberapa hari sebelumnya. Jarak jerat bisa mencapai dua hingga empat kilometer masuk ke dalam hutan. Bagi masyarakat adat Unurum, hutan sudah seperti toko dan apotek. Dari sana, mereka memperoleh sumber pangan dan obat yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup.

Dari enam hari saja intens membersamai keluarga Goakan, saya menyaksikan demikian pentingnya kehidupan komunal di kampung. Juga sedemikian vitalnya hak wilayah adat bagi komunitas. Dengan begitu, komunitas mampu menjaga dan melindungi sumber-sumber kehidupan mereka tetap lestari.

Saya juga memperoleh ‘pengetahuan-pengetahuan baru’ dari masyarakat Unurum. Contohnya ketika salah satu bapak tetua kampung melihat seorang pemuda memotong pohon berukuran besar. "Dua jam kamu punya chainsaw belum kasih jatuh pohon, bagaimana?” ujarnya sembari mengambil alih chainsaw. Dengan tenang, si bapak satu kali mengarahkan pandangan ke langit, dan mulai memotong pohon itu. Hingga tumbang.

“Potong pohon itu musti lihat uratnya. Dulu, seberapa pun besar pohonnya, potong dengan kapak, pohon bisa ditumbangkan. Lihat dan raba dulu urat pohon. Lihat lagi arah angin, di mana yang kencang, biar potong langsung angin bantu kasih rubuh pohon,” imbuhnya.

Contoh lain, Bapak David ajak kami tebang pohon sagu. Batangnya dipangkur, lalu mereka buat sisa pangkur batang sagu menjadi umpan makan babi. Biasanya antara pukul 20.00 hingga 03.00, babi keluar mencari buangan batang sagu.

Semua hal dilakukan dengan berkesadaran. Bagi saya, pengetahuan dan pengalaman yang dibagikan kepada kami generasi muda ini sangat penting untuk diwariskan dan terus diberlangsungkan. Jujur saja, mayoritas dari kami tidak sadar bahwa pengetahuan dan kearifan setempat ini berangsur pupus dan tidak dikenali lagi.

Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua
(YP3SP)
en_GBEN