Paia, Kelompok Berkebun Warga Alatep

Oleh Adolf Marlon Tohatta

Kampung Alatep berada di wilayah Distrik Okaba. Letaknya sekitar 85 kilometer dari Kota Merauke, dengan ketersediaan alat transportasi yang sulit dan serba tidak pasti. Untuk mencapai Okaba tersedia alat transportasi udara, namun dengan jadwal yang tidak pasti. Itu belum termasuk potensi kendala cuaca.

Lanskap kampung ini didominasi bangunan-bangunan rumah dengan pekarangan yang hanya ditumbuhi rumput liar dan beberapa pohon kelapa. Kampung ini juga memiliki ketergantungan tinggi pada utang untuk memenuhi kebutuhan makan, terkhusus beras.

Proses listening survey oleh YP3SP bersama warga Alatep pada —— (bulan, tahun) melandasi inisiatif 10 orang warga untuk membuka kebun secara berkelompok, dan menamainya ‘Kelompok Paia’. Paia berasal dari bahasa Malind, sebuah kalimat motivasi yang bermakna “mari bekerja mari berkarya, mari berkebun”.

Kebun Paia berukuran 100x100 meter. Kelompok ini menanam sayur-sayuran serta berbagai macam tanaman lokal. Untuk menyebut beberapa: keladi, pisang, pisang mbuti (pisang adat), serta ubi jalar, yang merupakan makanan pokok orang Papua suku Malind. Ikhtiar ini mereka lakukan terutama untuk memenuhi kebutuhan makan mereka sendiri.

Dari hasil berkebun, Kelompok Paia mengonsumsinya sendiri. Sebagian lainnya mereka jual atau bagikan ke keluarga mereka di kampung. Pada perkembangannya, hal ini berhasil memengaruhi dan memotivasi warga lain untuk mulai ikut berkebun di halaman rumah masing-masing. Lewat berkebun bersama, Kelompok Paia menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan yang dibekali oleh orang tua mereka dahulu. Hidup dan bekerja sama demi mengembalikan kedaulatan pangan, serta bertahap mengurangi ketergantungan pada utang dan bantuan.

Perjuangan kelompok ini bisa dilihat nyata. Jika sebelumnya di halaman rumah warga sama sekali tidak terlihat ada kebun, saat ini hampir seluruh rumah memiliki kebun.

Tentu kisahnya tidak manis melulu. Dalam perjalanannya, kelompok ini pernah juga mengalami kesalahpahaman akibat kurangnya komunikasi dan dialog di antara sesama anggota kelompok.

Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua
(YP3SP)
en_GBEN