Pulau Numfor Juga Dijuluki"Mios Abrui"

Oleh,Elisabeth Karma

Tahukah kalian, Pulau Numfor memiliki julukan ‘mios abrui’. Artinya pulau kacang hijau, mengacu pada salah satu tanaman khas di pulau ini. Di Numfor, kacang hijau bisa ditanam dua kali dalam satu tahun. Biasanya pada bulan Maret dan Agustus.

Di Februari dan Maret 2025 lalu Kelompok Fyarkin bersama komunitas-komunitas di Kampung Saribi membuka lahan dan menanam kacang hijau. Mulai minggu terakhir Mei sampai awal Juni ini kami masih saja memanen hasilnya. Selain kacang hijau, kami juga menanam beragam jenis kacang lainnya, seperti: kacang merah besar, kacang merah kecil, kacang kuning, dan kacang hitam.

Mayoritas hasil panen untuk kami konsumsi sendiri. Kacang hijau biasa diolah menjadi bubur seperti yang sudah diakrabi banyak orang. Secara tradisional, kami juga mengolahnya dengan menggunakan bahan pangan lainnya. Ada papeda kacang, yakni bubur sagu dicampur kacang hijau atau kacang merah. Ada war-war abrui, yakni sari pati singkong dicampur santan kelapa dan kacang. Juga ada paduan kacang dengan nasi. Pada intinya, kami mengolah kacang dengan memanfaatkan bahan-bahan yang kami miliki di kampung sendiri.

Marlon Tohatta fasilitator YP3SP di unggahan sebelumnya berkisah tentang tradisi orang tua-orang tua kami di zaman dahulu. Bahwa mereka biasa melakukan kegiatan menanam secara bersama-sama, mulai sejak membuka lahan hingga memanen. Nyatanya, semangat semacam ini sudah mulai mengendur. Tanpa sadar, kami dibentuk menjadi masyarakat yang individualistik. Kami tidak mau terus begini. Maka, Kelompok Fyarkin bersama komunitas-komunitas di Kampung Saribi berupaya untuk menghidupkan kembali kebiasaan yang di zaman dahulu dipraktikkan oleh orang tua kami. Salah satunya adalah membangkitkan lagi semangat kebersamaan dan gotong-royong.

Di Numfor, tanaman kacang menghadapi tantangan-tantangan alamiah. Cuaca yang tidak menentu dan serangan hama belalang mengancam gagal panen. Kami perhatikan, serangan petir juga bisa mengakibatkan kacang mengeras seperti batu.

Omong-omong, tahukah kawan, di Numfor ada pantangan yang harus dipatuhi dalam proses menanam. Salah satunya, ibu hamil dan perempuan yang sedang menstruasi pantang mengikuti kegiatan menanam. Konon, jika dilanggar nantinya hasil panen kebun akan sedikit saja, dan kacang tidak akan bertumbuh dengan baik. Apakah di daerah kalian ada mitos-mitos terkait aktivitas bercocok tanam? Sini, sini, berbagi!

Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua
(YP3SP)
en_GBEN