Bahasa Ibu Imian

Oleh Josua Majefat

Josua Majefat, anak muda Imian kelahiran Kampung Haha (2000) bercakap dengan ayahnya via telepon, dalam bahasa Imian. Sependek ingatannya, tidak lebih dari 15 orang muda seusianya di kampung yang masih memahami bahasa ibu mereka. Sebagian kecil saja aktif menuturkan, sebagian besar lainnya memahami secara pasif.

“Buat saya, bahasa ibu harus dibangkitkan lagi di antara generasi dan pemuda sekarang. Jangan sampai bahasa ibu ini hilang. Kawan-kawan segenerasi saya—khususnya di suku Imian—lebih fokus menggunakan bahasa Indonesia,” ujar Josua.

Setidaknya ada tujuh bahasa ibu di Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat, yang tercatat masih digunakan hingga hari ini. Percakapan ini adalah contoh penggunaan bahasa Imian. Selain Imian, masih ada Fkour, Kais, Kokodo, Puragi-Saga, Salkma, dan Tehit Mlakya. Tentu saja masih ada Bahasa Indonesia yang digunakan di ruang-ruang interaksi umum terutama di area perkotaan.

Bahasa Imian dituturkan oleh masyarakat di Kampung Haha dan Kampung Woloin di Distrik Seremuk; di Kampung Sawiat, Distrik Sawiat. Ia juga dituturkan di Kampung Wensok, Sodrofoyo, Eles, Sfakyo, Sasnek, dan Wendi. Sedangkan Kampung Klamit di sebelah barat Sawiat menuturkan bahasa Salkma. Kampung Wersar di sebelah selatan Sawiat menuturkan bahasa Tehit Mlakya. Di sebelah utara Sawiat adalah Kampung Pasir Putih, yang menuturkan bahasa Fkour.

Ada juga bahasa Kais yang dituturkan di Kampung Kais, Distrik Kais; bahasa Kokoda di Kampung Tarof, Distrik Kokoda; serta bahasa Puragi-Saga di Kampung Puragi dan Saga, Distrik Metemani.

Josua berharap kurikulum pendidikan mengakomodasi bahasa ibu sebagai yang diajarkan di sekolah-sekolah. Juga pembiasaan kembali dilakukan di keluarga, agar generasi muda bisa ikut membuat bahasa ibu terus lestari.

Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua
(YP3SP)

en_GBEN