
Oleh Josua Majefat
Pernahkah kalian mendengar sebuah pulau bernama Numfor?
Pulau seluas 335 kilometer persegi ini berada di sebelah utara Pulau Papua. Secara administratif, ia termasuk wilayah Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua Barat.
Di awal Maret 2025, untuk pertama kalinya saya mengunjungi Numfor, tepatnya Kampung Saribi, Distrik Orkeri. Di kunjungan pertama ini saya menjalani adat kampung mansorandak atau tradisi injak piring. Ini merupakan tradisi penyambutan dan ungkapan syukur bagi mereka yang pergi merantau jauh di luar tempat asal untuk waktu yang cukup lama. Tradisi ini juga diyakini sebagai bentuk pembersihan untuk mengusir roh-roh jahat yang ikut bersama perantau yang tiba di Numfor.

Bapak Bertus Rumbrawer—biasa disapa Kaka B—dari Komunitas Fyarkin di Numfor memberitahu saya arti kata ‘Numfor’, yakni pergerakan kayu matoa hingga menjadi api. Dalam bahasa Biak ‘num’ bermakna api. Dalam bahasa Yamo ‘for’ juga bermakna api. Dua kata dari dua bahasa berbeda itu kemudian digabungkan. Kaka B juga mengatakan bahwa Numfor adalah pulau yang kekayaan alamnya berlimpah.
Kaka B benar adanya. Saya menyaksikan banyaknya sumber daya alam di kampung Saribi. Salah satu yang dimanfaatkan oleh komunitas adalah ikan asin. Pengolahannya alami. Hasil tangkapan ikan laut dipotong lalu dijemur di bawah terik matahari hingga kering sempurna.
Komunitas Fyarkin beranggotakan 10 orang yang berkomitmen kuat mengelola kelompok dan sangat kompak. Sebagai fasilitator, masih ada banyak hal yang perlu saya gali dari dari kakak-kakak penggerak komunitas untuk saya memahami kehidupan di kampung Saribi. Ikuti terus kisah kami ya!


Kontak kami
Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua
(YP3SP)
Jalan Karya Tanah Hitam Permai
Abepura Jayapura
Papua
Email: info@papuatransformation.org
