Fyarkin

Di Pulau Numfor, Komunitas Fyarkin mencoba memberi nilai tambah pada sumber daya alam yang melimpah. Salah satunya adalah kelapa. Agar komoditas ini bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi, Komunitas Fyarkin mengolahnya menjadi minyak goreng dan minyak kelapa murni (VCO).

Awalnya, minyak goreng kelapa produksi Fyarkin digunakan sebatas untuk konsumsi sendiri di level keluarga. Jika kebutuhan keluarga sudah terpenuhi, barulah ia dijual ke tetangga dan anggota keluarga lain. “Biasanya kami bergantung pada kios untuk semua kebutuhan rumah tangga. Tapi sekarang dengan membuat minyak sendiri, perjalanan ke kios bisa kami kurangi,” ujar Helena, salah seorang warga. Warga juga mengatakan bahwa masakan mereka terasa lebih enak jika menggunakan minyak goreng buatan sendiri.

Selain upaya mereka untuk memproduksi bahan pangan sendiri dan mengurangi pengeluaran tunai, perjalanan Komunitas Fyarkin membuat anggota-anggotanya lebih sadar akan perubahan lingkungan dan kerapuhan komunitas. Bahwa selama ini hubungan mereka dengan lingkungan serta makhluk hidup lain dipandang sebagai sesuatu yang niscaya dan terberi. Kesadaran dan pemahaman ini kemudian menginspirasi mereka untuk mengubah cara hidup yang lebih baik, demi komunitas dan lingkungan.

Sejumlah anggota berinisiatif menanam kembali pohon bakau di sepanjang pantai, juga pohon kelapa di lahan keluarga mereka.

Dengan menanam pohon kelapa baru, mereka berharap bisa punya stok cukup untuk memproduksi minyak kelapa di jangka waktu lebih panjang. Mereka juga membuat kebun masyarakat yang ditanami singkong, sayuran, serta tanaman pangan lainnya. “Kami mengelola kebun secara alami, seperti orang-orang tua kami dulu. Tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida,” terang Elis—Ketua Komunitas Fyarkin.

Kontak kami

Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua
(YP3SP)

en_GBEN