Perjalanan Fasilitator,Okaba,Merauke,Papua Selatan

Oleh Hosea Mirino

Bekerja di YP3SP sebagai fasilitator membutuhkan ketangguhan fisik dan mental, juga cadangan dana yang memadai. Bagaimana tidak? Untuk bekerja dan bertemu dengan masyarakat dampingan penuh dengan tantangan. Bahkan dimulai dari proses menuju ke lokasi tujuan.

Seperti ini lah situasi yang kami hadapi 10 Maret 2025 lalu. Kami terjadwal bekerja di Distrik Okaba, Merauke. Moda transportasi utama kami adalah sepeda motor, juga perahu penyeberangan. Total durasi perjalanan kami mencapai lima jam.

Berangkat dari Merauke, kami diberkati hari yang cerah. Bersepeda motor kami melewati Kampung Urumb, Bahor, Wendu, Matara, dan Kampung Nasai di wilayah Distrik Semangga. Kemudian kami menyeberang Sungai Kumbe. Perjalanan darat lanjut dengan melintasi kampung-kampung di Distrik Malind: Kumbe, Kaiburse, Onggari, dan Domande. Dari sana, kami sambung perjalanan melintasi Sungai Bian, dan mendarat di Kampung Sanggase, Distrik Okaba. Kampung Sanggase ini adalah tetangga kampung tujuan kami: Alatep.

Sebagian besar wilayah Merauke adalah dataran rendah dan berawa. Luas areal rawa di Merauke mencapai 1.425.000 hektar. Daerah paling timur Indonesia ini berbatasan langsung dengan Papua New Guinea di sebelah timurnya, dan bersisian dengan Laut Arafura di selatan dan baratnya.

Di saat krisis iklim yang kita semua hadapi sekarang ini, dampak gelombang pasang pada abrasi pantai semakin hebat. Selain faktor topografi dataran Merauke yang berupa pasir dan bertanah lembut, sirkulasi air laut tak searah, abrasi juga utamanya diakibatkan oleh penggalian pasir liar.

Masa terberat adalah di kisaran Januari hingga Maret. Curah hujan tinggi dibawa angin barat, ditambah limpahan endapan dari Sungai Kumbe dan Sungai Bian. Akibatnya, jalan menjadi rusak karena tergenang air. Di laut, tantangan yang dihadapi masyarakat setempat tidak kalah serius. Transportasi laut melambat karena gelombang laut tinggi.

“Kalau sudah seperti ini, kami mati kutu. Semua tanaman terendam. Kami gagal panen. Tidak hanya di kebun kelompok, tetapi juga di kebun-kebun pribadi,“ ujar Daniel Kinamde, anggota Kelompok Berkebun Paia di Kampung Alatep. Situasi ini dirasakan di hampir semua komunitas di Distrik Okaba.

Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua
(YP3SP)
en_GBEN