
Ester Linda Marleen,
Fasilitator Komunitas Utama dan Direktur Keuangan
Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, Nilai-nilai yang mengajarkan kita cara bekerja
Nilai-nilai yang membuat kita bangga, Nilai-nilai yang membimbing kita selama bertahun-tahun
Sepenggal puisi karya Martha Brown yang saya terima melalui email dari salah satu teman beberapa waktu yang lalu, yang seolah-olah merupakan rangkuman sekaligus jawaban atas kerja-kerja saya bersama YP3 selama beberapa tahun belakangan. Dan apa yang akan saya tuliskan disini merupakan apa yang saya saksikan dan alami selama kurang lebih tiga tahun bekerja bersama komunitas kampung Alatep Distrik Okaba, Merauke.
Tanah Malind dan Utang diatas kekayaan
Saya bukan orang Papua asli, atau yang sekarang sering disingkat OAP. Berasal dari suku Ambon, saya dan anak-anak saya adalah generasi ke-lima dan enam yang lahir dan menetap di Papua. Keluarga besar dari pihak mama saya lahir dan menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Okaba, Merauke. Banyak cerita yang saya dengar langsung dari oma dan mama mengenai kebahagian hidup diatas tanah Malind. Cerita-cerita mengenai kecukupan dan bahkan kelimpahan khususnya makan, memberikan saya gambaran sempurna mengenai kebahagian hidup diatas tanah yang kaya. Tanah yang diberkati dengan alam, darat maupun laut, yang berlimpah. Cocok dengan ungkapan yang sering saya dengar, untuk hidup di Papua “alam menyediakan”.
Sejak tahun 2019 saya bekerja pada YP3SP (Papua Transformation) sebagai akuntan merangkap fasilitator komunitas. Sebagai fasilitator komunitas, sebagian besar kerja saya ada diantara komunitas akar rumput di kampung-kampung, dan itu memberikan kesempatan bagi saya untuk menginjak tanah kelahiran mama dan tempat hidup leluhur saya, Okaba.
Ini adalah tahun ketiga saya bekerja berdampingan bersama komunitas Alatep, satu dari sembilan kampung pemekaran di Okaba, yang sekarang telah menjadi salah satu distrik di kabupaten Merauke.
Seperti pada umumnya komunitas akar rumput, komunitas Alatep menggantungkan hidup untuk pemenuhan kebutuhan hanya kepada alam. Sejak pertama tiba di kampung Alatep, saya bisa melihat betapa gemburnya tanah yang biasanya menandakan kesuburannya. Saya juga mengalami langsung bagaimana melimpahnya hasil, baik dari laut maupun kali-kali disana, mulai dari ikan, udang dan kepiting. Pada satu kesempatan dengan hanya bermodalkan jaring hasil pinjaman, saya dan beberapa teman tim bisa mendapatkan udang dan ikan yang lebih dari cukup untuk makan harian kami.
Namun ada hal yang mengganggu saya yaitu, sulitnya saya menemukan sagu dan ubi-ubian. Saya juga tidak melihat tanaman sayur-sayuran di area pekarangan rumah warga. Awalnya saya berpikir tanaman-tanaman ini mereka tanam di kebun (dusun) masing-masing yang memang terletak agak jauh dari pemukiman. Namun ketika hal itu saya tanyakan kepada tuan rumah tempat kami tinggal, mereka mengatakan bahwa sagu tidak ada karena saat ini warga jarang melakukan proses pangkur. Proses pangkur sagu hanya akan ramai dilakukan ketika menjelang upacara-upacara adat sehingga tidak tersedia setiap saat. Sementara ubi-ubian sulit didapat karena tidak ada yang menanamnya. Kalaupun ada, ini hanya dilakukan oleh beberapa orang. Bahkan jika ada prosesi adat yang mengharuskan tersedianya tanaman local, warga Alatep terkadang harus membelinya dari luar kampung. Sementara untuk makan harian, warga lebih memilih mengkonsumsi beras (nasi). Sehingga bagi sebagian besar warga yang tidak melakukan proses pangkur sagu dan tidak menanam tanaman local, akan sepenuhnya bergantung kepada beras untuk makan. Kami didalam YP3, khususnya fasilitator lapangan, sudah cukup dibekali dengan ‘pesan-pesan” menyangkut sikap kami ketika berada diantara komunitas, salah satunya adalah, makanlah apa yang dimakan oleh komunitas. Seringkali ketika saya dan tim berkunjung kesana, kepada kamilah “tanggung jawab” makan harian (kami dan juga mereka) di serahkan. Awalnya saya berpikir bahwa ini hanyalah cara mereka untuk mencoba menghargai kami dengan membiarkan kami memutuskan sendiri apa yang mau kami makan. Namun dikemudian hari setelah beberapa kunjungan barulah saya menyadari bahwa mereka seringkali memang tidak mempunyai apapun untuk dimakan karena tidak memiliki uang untuk membelinya. Buat saya, menyediakan beras keperluan makan kami selama di sana bukanlah persoalan namun bagaimana mereka memenuhi kebutuhan makan jika tidak mampu membeli beras? Kenapa mereka lebih memilih berutang yang sering tak terbayar untuk bisa makan nasi daripada menanam dan memenuhi sendiri kebutuhan makan mereka? Apalagi beras (nasi) bukan makanan pokok mereka.
Pergeseran Nilai
Awal tahun 2023 lalu sebagai salah satu syarat menyelesaikan Pendidikan diploma yang saya ikuti, saya diharuskan melakukan penelitian. Topik yang saya pilih adalah terkait utang rumah tangga. dan lokasi yang saya pilih, tidak lain tidak bukan, komunitas kampung Alatep.
Hasil dari penelitian inilah yang kemudian membawa saya untuk lebih memahami apa sebenarnya yang dihadapi oleh komunitas kampung Alatep. Sesuatu yang awalnya tidak terpikirkan oleh saya. Saya menjadi tahu bahwa kondisi utang tanpa akhir yang dialami komunitas kampung Alatep bukanlah sekedar kekurangan modal, ketidakmampuan mengelola keuangan rumah tangga, persaingan gaya hidup antar tetangga, atau karena malas seperti yang sering saya dengar, tetapi lebih kepada pergeseran dan bentrokan nilai hidup
Nilai-nilai hidup yang dipakai oleh para leluhur dan pendahulu-pendahulu di Okaba, nilai-nilai yang mengajarkan bagaimana caranya mencari makan dengan mengandalkan alam sekitar untuk bisa memenuhi sendiri makan mereka, nilai kasih sayang terhadap tanah, rasa hormat terhadap alam dan tradisi serta kebiasaan tolong menolong yang dulu menjadi kekuatan mereka, tidak lagi ada didalam hidup komunitas Alatep. Pemenuhan kebutuhan dengan mengkonsumsi hasil-hasil produksi yang bersumber dari alam, berganti dengan pemenuhan kebutuhan pangan yang berasal dari luar dan membutuhkan uang tunai. Komunitas Alatep saat ini sudah jarang mengkonsumsi pangan lokal seperti sagu, pisang dan ubi-ubian, dan lebih memilih mengkonsumsi beras dan makanan kios lainnya. Sebagian besar mereka tidak lagi menanam bukan karena malas, tapi mereka mempercayai bahwa itulah yang seharusnya. Saya juga menyadari bahwa ini adalah dampak dari pembangunan yang kemudian membawa komunitas Alatep masuk kedalam kehidupan perekonomian modern. Kebijakan-kebijakan pemberian bantuan dan masuknya uang ke dalam kampung yang kemudian merubah hubungan kedekatan dan kasih sayang antar orang menjadi hubungan yang hanya diukur dengan uang dan menciptakan ketergantungan.
Tanpa disadari semakin mereka terlibat dengan perekonomian modern semakin mereka kehilangan kekuatan-kekuatan mereka. Mereka mencoba mengikuti cara-cara hidup yang berasal dari luar dan lebih modern sementara kampung mereka tidak menyediakan apa yang diperlukan untuk hidup modern.
Jika tujuan pembangunan adalah untuk melakukan suatu perubahan ke arah yang lebih baik, apakah kemandirian pangan yang selama ini ada didalam komunitas yang kemudian berubah menjadi ketergantungan akan beras dan berujung kepada utang sebagai solusinya adalah hal yang lebih baik?
Mereka tidak seharusnya susah diatas tanah ini, tidak seharusnya menangis diatas tanah ini, tidak seharusnya berhutang hanya untuk makan ketika tanah ini lebih dari cukup untuk memberi mereka makanan yang berlimpah.
Mengingat kembali dan menggunakan kembali nilai-nilai leluhur bukan berarti kita diminta untuk tidak mengikuti perkembangan jaman, waktu memang tidak akan berjalan mundur, tetapi sebaiknya ketika kita berjalan maju kita tetap membawa serta segala nilai baik yang ditinggalkan oleh para leluhur. Mulai membangun kearah yang lebih baik dengan apa yang kita punya bukan dengan yang tidak kita punya. Dengan begitu kita bisa menjadi tuan di tanah sendiri. Karena ungkapan Tanah Papua tanah yang kaya.. adalah YA dan AMIN.
Yayasan Pengembangan Pelatihan Untuk Perubahan Sosial Di Tanah Papua(YP3SP)
Jalan Karya Tanah Hitam Permai
Abepura Jayapura
Papua
Email: info@papuatransformation.org